“Kho, bangun udah siang!!!! Kamu ga sekolah?”, tiba2 ibu berteriak dengan gaya bawelnya. Akupun teringat ini pertama kalinya aku masuk di sekolah yang baru. Ya, benar.. sekarang aku telah duduk di bangku SMA, bersama teman2 baru pastinya. Setelah semuanya siap aku bergegas ke rumah Yoyo. Walaupun telah SMA, tapi kebiasaan SMP tidak akan hilang, yaitu berangkat bareng.
“Yoyo…”, aku memanggilnya dengan semangat. “Ntar dulu Kho, gw lagi sarapan!”, balasnya. Tak lama kemudian Nk-kur pun datang. “Kur, dah siap belum dapet teman baru?”.”Udah donk, pasti nanti cewek2nya pada rebutan mau kenalan”.”PD banget lho”. Tak lama kemudian Yoyo telah siap dengan seragam barunya dan kamipun segera berangkat menuju sekolah baru kami.
Beberapa saat kemudian kami tiba di sekolah. Kamipun segera mencari kelas masing2. ternyata Nk-kur dan Yoyo berada sekelas di I.6, sedangkan aku berada di kelas I.5. “Curang kalian berdua sekelas”. ”Iya donk, gw udah janjian ama Yoyo”. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi memanggil pasa siswa untuk segera masuk ke kelas masing2. Dasar memang aku sedang bernasib sial aku mendapat meja terdepan.
Ternyata banyak juga teman SMPku yang kini sekelas denganku. Beberapa saat kemudian seorang wanita separuh baya memasuki kelas. Ya, beliau seorang ibu, sama seperti yang aku harapkan karena aku pikir seorang ibu tidak akan tega memarahi anak2nya. “Selamat pagi anak2!!”, beliau menyapa dan seluruh siswa serempak menjawab “Selamat pagi Bu”. Beliau mulai memperkenalkan diri, “Anak2, nama ibu adalah Bu Mun. sekarang ibu akan menjadi walikelas kalian. Apakah kalian senang menerima ibu?”.”Senang Bu”. Aku yang kurang merasa senang duduk di meja inipun langsung bicara, “Bu, tempat duduk saya dipindah donk, kalau disini khan nyonteknya susah”. Untunglah beliau mau mengerti dan memindahkan aku ke meja lain. Dan ternyata aku duduk disebelah wanita yang menurutku cukup cantik. Aku berkenalan dengannya, tenyata dia bernama Isna.
Hari2 berikutnya berjalan seperti biasa, dan seiring waktu berjalan aku semakin dekat dengan Isna. Kami semakin sering bersama walaupun yang kami obrolkan hanyalah masalah pelajaran, tapi aku merasa senang. Akupun mulai berani menelepon dia, sampai2 kami digosipkan berpacaran.
Waktu terus berlalu, dan perasaanku pun mulai berbeda terhadapnya. Entah kenapa sekarang aku gugup bila berbicara dengannya. “Kamu kenapa Kho?, sakit yach?”, tiba2 ia menegurku. “Ah, aku gak pa2 kok”, jawabku dengan gugup. Aku jadi malu sendiri.
Keadaan ini aku ceritakan kepada kedua temanku. “Kho, mungkin lo suka maIsna”, celoteh Nk-kur. “Udah tembak aja dia”, tambah Yoyo. Aku menjadi semakin bingung. Lalu Nk-kur mengeluarkan idenya, “Gini aja, kalo pelajaran computer khan lo prakteknya ama dia, nah itu kesempatan lo buat nembak dia”. “Tapi gw takut bukannya tambah deket malah dia ngejauhin dia, lagian kayaknya dia polos banget, belum mikirin gituan”.”Mending lo coba dulu kalo nggak gimana bias tau!!!”.
Aku masih memikirkan ide Nk-kur itu hingga sulit tidur. Tapi dasarnya kebo, aku langsung terlelap.
Sekarang saatnya pelajaran komputer. Seperti biasa aku praktek bersama Isna. “Pagi Kho!!!”, sapanya dengan senyuman manis di bibirnya. “Pa… pa… pagi Isna”, jawabku gemetaran. Selama pelajaran berlangsung aku terus memikirkan perkataan Nk-kur dan Yoyo semalam. Tapi karna hanya dipikir saja, jam komputerpun selesai sehingga semua rencana berantakan.
“Udah, belum Kho?”, sapa Nk-kur sewaktu pulang sekolah. “Belum”. “Ayolah, kemana Kho-kho yang pemberani itu, kok jadi kayak ayam kesiangan gitu!!”. Aku terus memikirkannya hingga kuputuskan untuk meneleponya dan menyatakan perasaanku sebenarnya. Memang, cara ini menggambarkan lelaki pengecut. Tapi daripada aku terus tersiksa.
“Hallo Is, lagi ngapain?”. “Lagi nonton”. “Aku nggak ganggu khan?”. “Nggak, ada apa Kho?”. “Aku mo nanya sesuatu boleh gak?”. “Boleh”. “Tapi kamu ga marah khan?”. “Kenapa aku harus marah?”. “Aku mo nanya, kita kan digosipin pacaran, kamu marah gak?”. “Ehm.. nggak, biasa aja”. “Seandainya hal itu terjadi beneran?”, aku mulai gugup dan kemudian melanjutkan, “Aku emang suka sama kamu”. Isna terlihat diam dan akupun terpaku menanti reaksinya. Tak sabar menunggu aku melanjutkan, “Gimana Is??”. “ Ehm… ngomonginnya besok aja deh, nggak enak ngomong di telpon”. “Ya udah deh, udah dulu ya aku takut ngeganggu”. “Ya udah, bye….”.
Setelah itu aku ke rumah Nk-kur. “Kur, gw udah nembak dia, tapi ditelpon”. “gak papa, terus gimana?”. “Dia bilang ngomonginnya besok aja”. “Asik donk!!!”. “Gw bingung nih?”. “Santai aja lagi”.
Esokpun tiba. Aku sekolah seperti biasa. Hatiku merasa tak menentu. Tapi aku berusaha seperti biasa. “Hai, Is!!!”, kali ini aku menyapa duluan. “Hai juga”, ia menjawab singkat.
Bel pulang pun berbunyi. Tak seperti biasanya, aku tidak pulang bersama Nk-kur dan Yoyo. Tapi kali ini aku pulang bersama Isna. Banyak temanku yang mengejek tapi aku tak peduli. Isna pun terlihat sama. Saat melewati tempat yang agak sepi Isna memulai pembicaraan, “Oh iya kamu nunggu jawabanku yach?”. “Iya, gimana keputusan kamu?”. “Kamu serius sama aku?”. Aku mengangguk. Ia meneruskan, “Ga mao mainin aku?”. Sekali lagi aku mengangguk. Kami terdiam. Aku menanyakan kembali, “Jadi??”. “Ya udah iya”. “Jawabannya??”. “Iya”. “Aku gak mimpi khan?”. “Auuu…”, ia mencubit pipiku. Ternyata aku memang tidak sedang bermimpi. Bagaikan tersambar petir aku berteriak bahagia….